Jumat, 04 Februari 2011

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD DENGAN PENDEKATAN PAKEM UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS VII1 SMP NEGERI 12 PEKANBARU


BAB I
                     PENDAHULUAN                    

A.    Latar Belakang
Pendidikan sangat berperan penting dalam mengembangkan potensi dan membentuk manusia yang berkualitas, karena UU No.20 tahun 2003 mendefinisikan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Dalam kurikulum pendidikan Indonesia, matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang diajarkan pada jenjang dasar dan menengah. Matematika dinilai cukup memegang peranan penting dalam membentuk siswa yang berkualitas karena matematika merupakan suatu sarana yang mengutamakan berpikir secara logis dan sistematis.
Tujuan pembelajaran matematika di SMP/MTs adalah : (1) Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau logaritma, secara luwes, akurat, efisien dan tepat dalam pemecahan masalah (2) Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika (3) Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan pemecahan masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh (4) Mengkomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah (5) Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian dan minat dalam matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah (Depdiknas, 2006).
Dalam Permendiknas nomor 41 tahun 2007 dijelaskan bahwa pendidikan diselenggarakan sebagai proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang ber­langsung sepanjang hayat. Dalam proses tersebut diperlukan guru yang memberikan keteladanan, mengembangkan potensi dan kreativitas peserta didik. Implikasi dari prinsip ini adalah pergeseran paradigma proses pendidikan, yaitu dari paradigma pengajaran ke paradigma pembelajaran. Mengingat kebhinekaan budaya, keragaman latarbelakang dan karakteristik peserta didik, serta tuntutan untuk menghasilkan lulusan yang bermutu, proses pembelajaran untuk setiap mata pelajaran harus fleksibel, bervariasi, dan memenuhi standar. Proses pembelajaran pada setiap satuan pendidikan dasar dan menengah harus interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, dan memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.
Berdasarkan wawancara peneliti dengan guru matematika di SMP Negeri 12  Pekanbaru, proses pembelajaran hanya berlangsung satu arah, yaitu dari guru ke siswa. Dalam pelaksanaannya guru sering mengunakan metode ceramah dan belum melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran.
Berdasarkan nilai yang didapat dari hasil ulangan siswa kelas VII1 semester ganjil tahun pelajaran 2009/2010 hasil belajar matematika umumnya masih rendah dan belum mencapai KKM yang ditetapkan sekolah yaitu 60.  Hal ini dapat dilihat pada hasil ulangan pada materi garis dan sudut, dari 41 siswa hanya 28 siswa atau 68,29 % yang mencapai KKM.
Dari wawancara peneliti dengan siswa kelas VII1 SMP Negeri 12 Pekanbaru, sebagian siswa memiliki paradigma bahwa matematika adalah pelajaran yang sulit untuk dipahami dan terkadang merupakan salah satu pelajaran yang membosankan. Ketika ditanya tentang cara guru mengajarkan materi matematika, sebagian besar siswa mengatakan  bahwa proses pengajaran yang terjadi adalah guru senantiasa secara langsung memberikan  materi pokok pelajaran, diselingi dengan membahas contoh soal dan siswa mengerjakan soal-soal tugas yang ada pada buku. Banyak faktor yang menyebabkan matematika dianggap pelajaran sulit, diantaranya adalah karakterisitik materi matematika yang bersifat abstrak, logis, sistematis, dan penuh dengan lambang-lambang dan rumus yang membingungkan.  Selain itu pengalaman belajar matematika bersama guru yang tidak menyenangkan atau guru yang membingungkan, turut membentuk sikap negatif siswa terhadap pelajaran matematika.
Ketika peneliti mengamati secara langsung proses belajar di kelas VII1   SMP  Negeri 12 Pekanbaru ditemui siswa yang tidak memperhatikan guru ketika guru menjelaskan di kelas, ada yang berbicara dengan teman sebangkunya, ada yang menulis pada buku dan ada juga yang melamun. Proses pembelajaran matematika sering dilakukan dengan aktivitas yang sama, kondisi seperti ini mengakibatkan perasaan bosan. Ketika perasaan bosan telah datang maka siswa akan sulit untuk memahami materi yang diajarkan dan akan malas dalam mengerjakan latihan yang diberikan karena kondisi yang terbaik untuk memahami suatu konsep matematika adalah dalam kondisi yang menyenangkan dan tanpa beban.
Secara umum proses pembelajaran yang terjadi adalah guru lebih dominan
berceramah, klasikal dan kurang variasi, media belum dimanfaatkan dengan optimal, tidak ada pajangan karya siswa, guru dan buku sebagai sumber belajar. 
Berdasarkan  hasil belajar matematika siswa materi garis dan sudut, pada semester genap kelas VII1 SMP Negeri 12 Pekanbaru diperoleh dari 42 siswa, siswa yang mencapai KKM hanya berjumlah 28 orang (68,29%) dan sisanya yang berjumlah 13 orang (31,71%) belum memcapai KKM. Penyebabnya adalah mereka sulit mengingat konsep-konsep yang telah dipelajari. Hal ini membuktikan bahwa tingkat retensi siswa rendah dalam belajar matematika dengan pembelajaran yang digunakan guru selama ini.
Guru telah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi masalah di atas, namun hasilnya kurang maksimal. Adapun usaha yang telah dilakukan guru yaitu dengan memberikan contoh-contoh soal, meminta siswa berdiskusi dengan teman sebangku dalam menyelesaikan latihan yang diberikan dan membahas PR yang dianggap sulit dikerjakan oleh siswa. Namun upaya ini belumlah meningkatkan hasil belajar siswa karena proses transformasi ilmu hanya terjadi antara dua orang siswa saja. Jika yang menjadi teman diskusinya adalah siswa yang bisa memahami persoalan matematika maka ini menjadi lebih baik. Tetapi bagaimana jika dalam mendiskusikan persoalan-persoalan matematika kedua siswa tidak memahaminya dengan baik. Dan inilah yang menjadi titik lemah jika proses diskusi hanya terbatas pada teman sebangku saja.  
Hasil belajar matematika siswa yang kurang memuaskan di SMP Negeri 12 Pekanbaru, menunjukkan bahwa masih diperlukan perbaikan dalam proses pembelajaran agar hasil belajar siswa dapat ditingkatkan. Keberhasilan siswa tidak terlepas dari kualitas pembelajaran yang dilakukan oleh guru, karena kualitas pembelajaran mempunyai hubungan berbanding lurus dengan hasil belajar siswa (Sudjana, 2000).
Peneliti ingin melakukan suatu perbaikan agar terjadi pembelajaran yang aktif, efektif, kreatif dan menyenangkan. Salah satu solusi yang penulis yakin dapat mengatasi permasalahan yang ada di kelas VII1 SMP Negeri 12 Pekanbaru adalah dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan pendekatan PAKEM.
Pembelajaran kooperatif tipe STAD menekankan pada adanya aktifitas dan interaksi antara siswa untuk saling membantu dalam menguasai materi pembelajaran sampai tuntas. Untuk menjadikan pembelajaran lebih efektif, kreatif dan menyenangkan maka model pembelajaran kooperatif tipe STAD dipadukan dengan pendekatan PAKEM. PAKEM merupakan singkatan dari Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan. Salah satu kelebihan penerapan model kooperatif tipe STAD dengan PAKEM adalah terdapatnya proses pembelajaran yang menyenangkan yang sangat berguna untuk menumbuhkan motivasi siswa. Sehingga siswa tidak hanya belajar di kelas saja, tetapi dengan munculnya perasaan senang belajar di kelas akan terbawa sampai di rumah.

B.     Rumusan masalah
Berdasarkan latar  belakang masalah yang dikemukakan diatas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan pendekatan PAKEM dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas VII1 SMP Negeri 12 Pekanbaru pada materi segiempat  semester genap tahun pelajaran 2009/2010?

C.    Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk memperbaiki proses pembelajaran sehinga dapat meningkatkan hasil belajar matematika dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan pendekatan PAKEM pada materi Segiempat  di kelas VII1 SMP Negeri 12 Pekanbaru

D.    Manfaat Penelitian
1.      Bagi siswa, dengan diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan PAKEM diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas VII1 SMP Negeri 12 Pekanbaru
2.      Bagi guru, dengan diterapkan model pembelajaran Kooperatif tipe STAD dengan PAKEM dapat dijadikan sebagai bahan masukan dalam hal merancang model pembelajaran di SMP Negeri 12 Pekanbaru agar dapat mencapai hasil yang lebih baik.
3.      Bagi sekolah, untuk dijadikan salah satu bahan masukan dalam rangka meningkatkan dan memperbaiki kualitas pendidikan di SMP Negeri 12 Pekanbaru.
4.      Bagi peneliti, hasil penelitian ini diharapkan menjadi landasan berpijak dalam rangka menindaklanjuti penelitian ini dengan ruang lingkup yang lebih luas.

(Adalah judul skripsi Syef Harapit, Mahasiswa Prodi Matematika FKIP Universitas Riau : 2005 )

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar